Monday, November 28, 2016

Perjuangan Meraih Mimpi Gadis Malagasy (Tribun Kaltim)

Setiap kali membaca buku baru, saya selalu menuliskan minimal dua versi review buku tersebut. Yang pertama adalah tulisan review suka-suka saya dan kedua adalah tulisan review ala media. 

Novel Sebiru Safir Madagascar misalnya. Saya sudah menuliskan review suka-suka saya untuk novel tersebut, lalu menuliskan lagi tulisan review versi media. Jadi, untuk satu buku saya bisa punya lebih dari satu tulisan. 

Lebih menyenangkan yang mana? Lebih menyenangkan menulis suka-suka laaaah, hahaha. Berikut ini adalah review Sebiru Safir Madagaskar versi media. Saya kirim ke surat kabar Tribun Kaltim (Kalimantan Timur), sebuah surat kabar yang sekelas dengan Serambi Indonesia kalau di Aceh. 

Selamat membaca.



Wednesday, August 24, 2016

Sebiru Safir Madagaskar


Saya selalu suka menyukai berpetualang––melalui buku––di negara-negara ketiga––negara-negara yang jika disebut namanya,  mungkin sebagian orang, sambil mengernyit, akan bertanya: di manakah itu?; atau yang lebih ekstrim jadi, itu negara?

Seperti saya, haha.

Wednesday, March 30, 2016

Pulang; Perjalanan Menemukan Kembali Hakikat Hidup

Pulang, begitu judul novel Tere Liye yang terbit perdana pada September 2015 lalu. Judul yang paling banyak dipakai sebagai judul oleh penulis fiksi Indonesia–baik cerpen maupun novel. Tapi tentu saja, Pulang-nya you know who yang paling tenar dan abadi di Indonesia.  Cmiiw.

Sunday, December 28, 2014

Negeri Lima Menara: Mantra Man Jadda Wajadda dan Perjuangan Meraih Mimpi


Well, firstly, I’d like to say that it’s not such of an objective book’s review as I did before. It’s just my impressions :p 
Negeri 5 Menara (N5M) adalah salah satu buku booming Indonesia ke sekian yang aku baca sekarang, bukan pada masa sedang heboh-hebohnya, bukan juga ketika bukunya difilmkan. Sama seperti Perahu Kertas. Padahal bukunya sudah lama sekali kubeli, flmnya juga belum kutonton.

Saturday, December 13, 2014

The Coffee Memory; Cinta Dalam Citarasa Kopi


The Coffee Memory adalah salah satu novel dengan taglineLove Flavour’ besutan penerbit Bentang.  Di antara beberapa novel ‘Love Flavour’ yang sudah terbit, saya memilih  membaca The Coffee Memory, karangan penulis produktif Riawani Elyta. Tentu ada alasan tersendiri buat saya atas kecenderungan ini, karena saya menyukai gaya menulis Riawani Elyta. Elyta, begitu nama panggilannya, termasuk lihai memainkan ide yang mungkin dianggap biasa untuk novel bergenre roman, menggarapnya dengan kekuatan diksi dan  jalinan kata yang membuat pembaca tidak ingin melewatkan satu kalimatpun.

Saturday, December 6, 2014

Perempuan Terluka; Tentang Cinta dan Prasangka



Judul Buku    : Perempuan Terluka
Penulis          : Qaishra Shahraz
Penerbit         : Mizan
Tahun Terbit  : 2004
Tebal             : 412 halaman

Sunday, November 30, 2014

Semusim, dan Semusim Lagi

Setelah semalam membaca pengakuan Atria di blognya, tentang bagaimana perubahan adaptasinya dengan bacaan yang minim dialog dan maksi narasi, saya seperti melihat ke diri saya sendiri. Akhir-akhir ini, ketika saya membaca buku dengan tipikal seperti itu, dan seperti halnya Atria, saya menyadari bahwa pembacaan saya dulu dan sekarang, juga  berubah. Bukan soal seberapa banyak, tapi soal bagaimana saya reaksi saya terhadap buku yang akan/sudah saya baca. Setidaknya ketika saat ini saya membaca kembali, misalnya, buku George Orwell yang minim dialog dan maksi narasi, atau sebaliknya, cerpen-cerpen Joni Ariadinata yang banyak dialog, bisa saya lakukan dengan bebas dan  tanpa hambatan sekali. Seperti jalan tol :D Dan bukan hanya untuk buku-buku seperti itu saja sebenarnya, bahkan termasuk buku yang tergolong ‘gelap dan muram’ seperti novel Semusim, dan Semusim Lagi ini