Menjadi Djo: Kisah Anak Tionghoa Merajut Mimpi


Judul             : Menjadi Djo
Penulis          : Dyah Rinni
Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama
Terbit              : Mei 2014
Tebal              : 296 halaman
ISBN               : 9786020304472


Novel ‘Menjadi Djo’ adalah novel Dyah Rinni yang pertama saya baca. Menurut deskripsi di kover buku, novel ini ditulis berdasarkan inspirasi kisah nyata seorang direktur perusahaan pengiriman terbesar di Indonesia. Saat membaca sedikit deskripsi tersebut, saya membayangkan akan membaca semacam semi-biografi seorang tokoh.  Namun ternyata saya salah. Ini bukan semacam tulisan seperti itu, ini adalah novel yang ditulis berdasarkan sepotong kisah hidup masa lalu seorang tokoh.  Bagi penulis, tentu menyenangkan menjadikan potongan-potongan kisah hidup seseorang ke dalam tulisan fiksi. Ia sudah punya bahan dasar yang kemudian akan diolah menjadi sesuatu yang baru. Menulis fiksi, meski berdasarkan kisah hidup seseorang, tetaplah disebut fiksi, bukan biografi. Di dalamnya terdapat unsur-unsur yang menyertai sebuah fiksi yang baik. Terkadang, justru dengan cara seperti ini, penulis akan lebih leluasa berekspresi dan berimprovisasi, karena ‘bahan baku’nya sudah ada.
Novel ini menitikberatkan pada cerita kehidupan etnis Tionghoa pada tahun 1960-an, dengan tokoh sentral bernama A Guan. Alur ceritanya sendiri dibagi ke dalam tiga masa. Bagian satu terjadi pada awal tahun 1960-an, saat A Guan masih menjadi siswa  di sebuah Sekolah Dasar di Medan. Bagian kedua  adalah cerita enam tahun kemudian, saat keluarga A Guan pindah ke Jakarta karena kota Medan yang dirasa sudah tidak aman lagi untuk etnis Tionghoa seperti mereka. Seperti yang kita ketahui, pada masa-masa itu adalah masa-masa genting bagi etnis Tionghoa selepas peristiwa G30S-PKI. A Guan pun berganti nama menjadi ‘Djo’. Dan bagian ketiga, cerita berpindah ke tahun 1972, di mana keluarga Djo sudah menjadi warga Negara RI seutuhnya. Di bagian ini, Djo bukan lagi seorang anak manja, ia sudah bertransformasi menjadi seorang laki-laki dewasa dengan persoalan dunia orang dewasa yang lebih rumit. Cerita bagian ini pun menjadi lebih dari sekadar ‘kisah pertemanan’ sebagaimana  di dua bagian sebelumnya.
***
Jadi, jika buku ini disebut sebagi fiksi, tapi saya seperti membaca runut kisah hidup seseorang. Mungkin saja karena ini pengaruh pembagian cerita menurut tahun-tahun tertentu. Kisah para tokoh pendukung di tiap bagian juga berlalu begitu saja. Hanya tokoh Yanto, teman kecil A Guan, mendapat porsi penceritaan yang lebih banyak.
Kisah persahabatan A Guan dan Yanto mengingatkan saya akan kisah persahabatan Hassan dan Amir dalam The Kite Runner; persahabatan antara anak majikan dengan anak pembantu, antara satu etnis dengan etnis lainnya, antara si miskin dengan si kaya, antara yang berpendidikan dengan yang tak berpendidikan. Kisah mereka juga terjadi pada masa-masa pergolakan politik di Indonesia, dan mereka juga diceritakan akhirnya berpisah karena kondisi tersebut. Bahkan kavernya nyaris sama! Dua anak yang mengejar layang-layang. Meski demikian, dibanding dua bagian lainnya, hanya kisah A Guan dan Yanto di bagian satu yang benar-benar terasa hidup. Di bagian ini, terlihat betul bagaimana hasil riset penulis atas apa yang terjadi pada masa-masa itu. Bagaimana nasib etnis Tionghoa dan peristiwa selepas G30S-PKI. Pembaca akan diajak merasakan bagaimana mencekamnya saat keluarga A Guan melihat berbagai teror di sekeliling mereka.
Saya kehilangan Yanto di bagian dua dan tiga sambil terus berharap mungkin saja Yanto akan muncul kembali di bagian akhir –mengingat di awal cerita tokoh Yanto mendapat porsi penceritaan yang nyarsi sama banyak dengan tokoh utama–  namun ternyata tidak ada sama sekali.  Yanto hanyalah kenangan masa kecil yang tertinggal di diri A Guan atau Djo.
Bergerak maju ke begian-bagian berikutnya, cerita tidak lagi berhubungan dengan kehidupan masa kecil Djo atau A Guan. Namun satu benang merah  –sekaligus menjadi inti cerita buku ini –   yang menghubungan bagian-bagian cerita ini adalah tentang bagaimana Djo dan keluarganya sebagai etnis minoritas di negeri ini, yang sempat mendapat perlakuan diskriminasi, berjuang agar layak disebut sebagai warga Negara Indonesia. Ya, bagaimanapun mereka lahir dan besar di sini. Sebagaimana ungkap Djo;
“Aku tidak pernah mengenal China. Bagiku, negara itu terlalu jauh dan tidak pernah menyumbangkan apa pun kecuali dongeng masa lampau keluargaku.”
Sebagai novel based on true story, novel ini sangat sesuai dengan kondisi kekinian, saat di mana rasa toleransi kita terhadap perbedaan etnis yang kian hari kian meruncing saja. Semoga apa yang pernah dialami Djo di masa lalu, tidak terjadi pada ‘Djo-Djo’ beretnis Tionghoa lainnya di Indonesia. Cukuplah kisah Djo menjadi pelajaran buat kita semua, bahwa menghargai perbedaan itu indah.
***


11 comments:

  1. mupeng baca buku ini.. resensinya bikin tambah penasaran..

    ReplyDelete
  2. Benar ya kak... nulis cerita dari kisah nyata biasanya konflik dan jalan ceritanya jelas...tinggal memilih diksi yang menari.. Yukk kak Nulis cerita tentang kita... Hihihihi

    ReplyDelete
  3. ayoklah fus, tulis kisah kita sendiri, wkwkwwk

    ReplyDelete
  4. saya baru nyadar mirip kite runner setelah baca review mbak eky...reviewnya keren mbak :D

    ReplyDelete
  5. Resensinya jelas banget.
    Aku suka ketika kak Ekky mengutip tentang negeri China yang begitu jauh dan hanyalah dongeng di masa lampau....

    Jadi itu inti ceritanya..tentang kisah hidup seorang minoritas di negeri yang kita cintai ini. Hm aku udah lama pengen baca buku ini, tapi blm beruntung pas ikutan kuis haha..

    Eh aku jug terkenang kenang dengan Kisah Hassan dan Amir yang berujung pedih itu..
    Mengingatkanku bahwa harga sebuah persahabatan itu teramat mahal..hiks mewek lgi inget kisah ini.

    Mudah mudahan beruntung bisa membaca buku ini, karena membaca resensinya selalu memberikan efek tunggal yang berulang...penasaraaaaaaan.. Haha .

    ReplyDelete
  6. terima kasih atas kunjungannya mbak lyta dan mb Yunita
    Buku ini memang mengingatkanku akan pershabatan Hassan dan Ami mbak, karena faktor-faktor yang saya sebut di atas :D

    ReplyDelete
  7. Aku udah punya bukunya (dikasih temen :D) tapi agak males baca novel biografi, kebayang lambatnya penceritaan (pengalaman baca bbrp novel biografi). Semoga bisa segera menyusul mba Eky mereview novel ini :D

    ReplyDelete
  8. Lumayan menyenangkan membaca buku ini mbak, agak jauh dari kesan buku biografi. Pada dasarnya saya juga kurang suka membaca buku-buku biografi. Lebih senanng baca novel sih, xixixiiii....

    ReplyDelete
  9. punya buku ini tapi belum kubaca haha. lumayan juga ya berarti. ehya mbak, kulist di blogroll ya blog mbak di blogku ^^ makasih udah berkunjung

    ReplyDelete
  10. Silakan mbak Evyta, dengan senang hati.
    Terima kasih sudah berkunjung mbak :F

    ReplyDelete

Peutimang Buku. Powered by Blogger.